Imago Dei yang Retak
Bagaimana Injil Memulihkan Gambar Diri yang Rusak Karena Dosa
Penulis: Dr. Tomi Yulianto M.Pd, M.Kom, Rinawati, SE, ST, M.Th
Penerbit: PT Ruang Literasi Digital
Tahun Terbit: 2025
Jumlah Halaman: 173 halaman
Harga: Rp 102.000
Abstrak
Imago Dei yang Retak: Bagaimana Injil Memulihkan Gambar Diri yang Rusak karena Dosa merupakan buku teologis-pastoral yang membahas krisis identitas manusia dalam terang doktrin penciptaan, kejatuhan, penebusan, dan pemulihan di dalam Kristus. Buku ini menempatkan manusia sebagai ciptaan yang sejak awal dirancang menurut gambar dan rupa Allah, tetapi mengalami keretakan gambar diri akibat dosa yang melahirkan rasa malu, ketakutan, penolakan, kesombongan, luka batin, dan pencarian identitas pada hal-hal yang rapuh seperti prestasi, relasi, harta, serta penerimaan sosial. Ruang lingkup pembahasan mencakup makna Imago Dei, hubungan dosa dengan kerusakan identitas, dampak dosa terhadap batin dan relasi manusia, Kristus sebagai model manusia sejati, identitas baru dalam Kristus, adopsi rohani, penerimaan berdasarkan kasih karunia, pembaruan pola pikir, proses pemulihan berkelanjutan, serta gereja sebagai komunitas penyembuhan. Melalui kajian biblika, refleksi teologis, dan pendekatan pastoral, buku ini bertujuan menuntun pembaca memahami bahwa pemulihan gambar diri tidak ditemukan melalui pembuktian diri atau validasi dunia, melainkan melalui Injil yang mengembalikan manusia kepada identitas sejatinya sebagai ciptaan yang dikasihi, ditebus, dan diperbarui di dalam Kristus.
Deskripsi
Buku ini menelusuri perjalanan identitas manusia dari penciptaan hingga pemulihan. Pada bagian awal, pembaca diajak memahami bahwa nilai manusia tidak dimulai dari pencapaian atau penerimaan dunia, melainkan dari karya Allah yang menciptakan manusia menurut gambar-Nya. Namun, kejatuhan dalam dosa membuat gambar itu retak. Rasa malu, kejatuhan dalam dosa membuat gambar itu retak. Rasa malu, ketakutan, penolakan, luka batin, kesombongan, dan kecenderungan menyembunyikan diri menjadi tanda bahwa identitas manusia telah terlepas dari sumbernya yang sejati.
Pembahasan kemudian bergerak pada sumber-sumber identitas palsu yang sering dijadikan sandaran hidup, seperti prestasi, relasi, harta, dan penerimaan sosial. Buku ini menunjukkan bahwa semua hal tersebut tidak selalu buruk, tetapi menjadi merusak ketika dipakai untuk menjawab pertanyaan yang hanya dapat dijawab oleh Allah. Di tengah keretakan itu, Kristus dihadirkan sebagai gambar Allah yang sempurna dan model manusia sejati. Melalui Dia, manusia tidak hanya menerima pengampunan dosa, tetapi juga identitas baru, penerimaan berdasarkan kasih karunia, dan pemulihan yang berlangsung melalui pembaruan pikiran serta karya Roh Kudus.
Pada bagian akhir, buku ini menegaskan bahwa pemulihan gambar diri bukan proses instan, melainkan perjalanan rohani yang terus dikerjakan Allah dalam kehidupan orang percaya. Gereja juga ditempatkan sebagai komunitas penyembuhan, tempat manusia yang terluka tidak berjalan sendirian, melainkan saling menguatkan dalam kasih Kristus. Buku ini sesuai bagi pembaca Kristen, pelayan gereja, konselor pastoral, pendidik rohani, mahasiswa teologi, dan siapa pun yang ingin memahami pemulihan identitas diri secara alkitabiah, reflektif, dan berpusat pada Injil.